Thursday, 22 March 2012

Ternyata Wong Fei Hung Muslim

wong_fei-hung
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China . Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong , Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

wong fe hung

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei Hung

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea ). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Wong Fei Hung (1)

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.


Tuesday, 20 March 2012

Inilah potret masyarakat kita yang sulit untuk digeunggeureuhkeun...

It's so Bandung...

Sunday, 13 March 2011

Bandung Rhapsody

ketika anak saya lahir sekitar 8 bulan yang lalu, pertanyaan yang banyak muncul dari lingkungan sekitar adalah "siapa namanya?" kemudian disusul dengan "apa artinya?". ya, memang nama adalah elemen pokok dalam mengenali seseorang dan dari nama pula kita tahu keinginan dan doa serta cita-cita orang tuanya. misalnya, saya pernah memiliki seorang teman bernama Muhammad Hanif Hasbulloh (Tentara Alloh yang lurus dan terpuji) kira kira begitu artinya, walaupun sekarang dia terjebak dalam jurang narkoba. akan tetapi, harapan orang tua masih tetap melekat pada diri teman saya itu melalui namanya. Ada juga sahabat saya bernama Sugiharto (berarti kaya harta-red). walaupun masih harus bergelut di gerobak sampah dan kadang harus menahan lapar karena himpitan ekonomi, harapan itu masih ada dan melekat dalam dirinya melalui namanya. Pernah pula saya memiliki beberapa teman dengan nama yang unik sekali. Salah satunya adalah sahabat saya ketika mengaji waktu kecil. Panggilannya Toni. lho, apanya yang salah? Tenang..walaupun panggilannya terdengar keren, nama lengkapnya cukup mencengangkan Saitoni Rojim. secara bahasa berarti Setan yang terkutuk. Prestasinya dalam bidang hafalan Qur'an tak perlu diragukan lagi. Begitu juga dengan intelejensinya serta jiwa sosialnya, sangat mencolok di antara rekan-rekan satu pondok. Walaupun pak Shakespears bilang "apalah arti sebuah nama", tapi nama adalah doa yang akan terus melekat dalam diri pribadi si penyandangnya. Khawatir dengan hal tersebut, Kiai kami segera mengubah nama sahabat kami menjadi Ahmad Fathonah (orang yang cerdas-ahmad diambil dari nama panggilan Rasulullah). walaupun tidak ada hal menyimpang dalam diri sahabat kami, Kiai khawatir dan tidak rela anak kesayangannya jadi harapan bagi setan untuk menjadikannya salah satu rekannya, karena harapan itu masih ada melekat melalui namanya. Dikabul atau tidaknya doa dan cita-cita orang tua, sang pemberi nama, adalah ketika nama tersebut sudah terukir di nisan. Bagi sahabat yang pesimis karena kenyataan tidak sesuai dengan nama yang anda sandang, jangan putus asa, karena harapan itu masih ada dan melekat dalam diri anda melalui nama anda! Nah, sekarang berkaitan dengan nama Blog saya, mengapa harus Bandung?dan mengapa harus Rhapsody? Pertama, saya diamanahkan tinggal di Bandung, lalu Rhapsody, dalam bahasa Pangeran Charles, dapat berarti Kegembiraan, harapan dan cita-cita saya pada Blog ini adalah menjadikan blog ini menjadi suatu kegembiraan terhadap bumi Bandung yang sedang saya pijak ini. Sehingga cita-cita besarnya adalah menjadikan Bandung menjadi suatu negeri yang menggembirakan dan dirahmati Allah...Amiin Ya Rabbal 'Alamiin...Walaupun saat ini Bandung belum seperti itu, tapi, harapan dan cita-cita itu masih ada dan melekat pada diri melalui nama (blog ini)..